Warning: Error while sending QUERY packet. PID=3356501 in /home/staialan/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1944
Profil Pendiri STAI Al Anwar | STAI Al Anwar
STAI AL ANWAR, SARANG
(0295) 5391410

Profil Pendiri STAI Al Anwar

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI Al Anwar) lahir berkat pandangan visioner K.H. Maimun Zubair dalam rangka menjawab keberlangsungan jenjang pendidikan para santri yang telah lulus Aliyah.

Beliau adalah seorang ulama yang “teduh” yang visioner dan berwibawa, kelahiran tahun 1928. Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatis yang dikenal teguh memegang pendirian.

Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.

Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah sosok pribadi yang santun dan matang. Tradisi kesantunan pesantren telah membentuk karakter kepribadian beliau. Termasuk “sentuhan” pendidikan ayah dan kakek beliau sendiri.

Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh dan dididik langsung oleh ayahnya. Di era ini beliau menghafal dan belajar ilmu Sharaf, Nahwu, Fiqih, Manthiq (Logika), Balaghah (Sastra Arab) dan berbagai disiplin ilmu keislaman yang lain. Ayahandanya Kyai Zubair adalah tokoh ulama besar di masyarakat yang mengenyam pendidikannya dari guru-guru mulia, seperti Syaikh Sa’id Al-Yamaniy dan Syaikh Hasan Al-Yamaniy Al- Makkiy.

Sekitar tahun 1945, beliau melanajutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang -saat itu- diasuh oleh K.H. Abdul Karim, biasa dipanggil dengan nama Mbah Manaf. Di samping itu beliau juga menimba disiplin ilmu keislaman dari K.H. Mahrus Ali dan K.H. Marzuqi.

Pada usia 21 tahun, beliau melanjutkan studinya ke Makkah Al-Mukarromah. Keberangkatannya didampingi langsung oleh kakeknya sendiri, K.H. Ahmad bin Syu’aib.

Beliau menerima ilmu dari sekian banyak guru yang kompeten di bidangnya. Di antaranya Sayyid ‘Alawi bin Abbas Al-Malikiy, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbiy, dan Syaikh Yasin bin Isa Al- Fadaniy.

Setelah dua tahun lebih beliau menimba “kaweruh” di Makkah Al-Mukarromah, beliau memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama besar di Jawa. Di antaranya K.H. Baidlowi (mertua beliau) dan K.H. Ma’shum. Kedua ulama ini tinggal di Lasem, Jawa Tengah. Beliau juga belajar kepada K.H. Ali Ma’shum Krapyak, Jogjakarta, K,H. Bisri Musthofa (ayahanda Mustofa Bisri) Rembang, K.H. Abdul Wahhab Hasbullah, K.H. Mushlih Mranggen, K.H. Abbas, Buntet. Cirebon, Syaikh Ihsan, Jampes, Kediri, dan K.H. Abul Fadhol, Senori, Tuban, Jawa Timur.

Pada tahun 1965 beliau mulai mengabdikan diri dalam penyebaran keilmuan islam ilmu-ilmu agama dengan bersamaan dengan pendirian pondok pesantren yang berada di sisi kediaman beliau. Sebuah pondok pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Pondok Pesantren Al-Anwar.

[diolah dari berbagai sumber]

WordPress Themes