STAI AL ANWAR, SARANG
(0295) 5391410
  1. Pendahuluan

Manusia saat ini masuk dalam dunia transformasi,yang mempengaruhi hampir setiap aspek dari apa yang mereka lakukan. Entah baik atau buruk, manusia di dorong masuk ke dalam tatanan global yang tidak dipahami sepenuhnya oleh siapa pun, tetapi yang dampaknya dapat dirasakan oleh semua umat manusia.[1]

Globalisasi barangkali bukanlah kata yang baru untuk diperbincangkan saat ini. Namun demikian, tidak seorang pun yang ingin memahami prospek kehidupan manusia di abad ini yang dapat mengabaikannya. Tidak ada satu pun negara yang tidak membicarakan isu globalisasi secara intensif. Di Prancis, kata itu disebut dengan mondialisation. Di Spanyol dan Amerika Latin, disebut globalizatión. Orang Jerman menyebutnya dengan globalisierung.[2] Sementara orang Arab menyebutnya dengn al-`awlamah.

Mengglobalnya istilah tersebut menjadi bukti perkembangan fenomena yang diacunya. Setiap guru bisnis membicarakannya. Pidato politik dirasa tidak lengkap tanpa menyebutkannya. Padahal, hingga akhir 1980-an, istilah tersebut hampir tidak pernah digunakan, baik dalam literatur akademis maupun dalam bahasa sehari-hari. Istilah itu datang entah dari mana, namun hampir ada di mana-mana.[3]

Dengan popularitasnya yang muncul tiba-tiba, tidak perlu terkejut jika makna gagasan itu tidak selalu jelas, atau jika reaksi intelektual dibangun untuk melawannya.  Globalisasi berkaitan dengan tesis bahwa kita semua sekarang hidup dalam satu dunia.[4]

 

  1. Makna Globalisasi

Istilah globalisasi merupakan salah satu istilah yang saat ini sangat populer, menjadi bahan pembicaraan para elit politik di seluruh dunia, tetapi juga menjadi bahan pembicaraan di warung kopi di pinggir jalan.

Namun dengan itu tidak berarti bahwa maknanya menjadi jelas. Dalam perdebatan yang berkembang selama beberapa tahun terakhir, di antara para pemikir yang berbeda terdapat berbagai pandangan yang hampir sepenuhnya berlawanan satu sama lain mengenai globalisasi. Di tingkat akademis diskusi tentang makna globalisasi telah menghasilkan banyak sekali definisi. Di bawah ini akan ditampilkan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli.

Bagi R. Robertson globalisasi tidak lain adalah suatu proses”….. pemadatan dunia dan intensifikasi kesadaran dunia sebagai satu keseluruhan”.[5]

Sedang bagi A. Giddens globalisasi merupakan suatu proses “intensifikasi relasi-relasi sosial seluas dunia yang menghubungkan lokalitas-lokalitas berjauhan sedemikian rupa, sehingga peristiwa di suatu tempat ditentukan oleh peristiwa lain yang terjadi bermil-mil jaraknya dari situ dan sebaliknya”.[6]

R.O. Koahane dan Joseph S. Nye melihat globalisasi sebagai suatu proses “meningkatnya jejaring interdependensi antar umat manusia pada tataran benua-benua”.[7]

Dari ketiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa globalisasi merupakan suatu proses saling ketergantungan tingkat global yang membuat dunia seolah-olah “menyempit”. Atau dengan perkataan lain globalisasi merupakan suatu proses saling ketergantungan dan keterhubungan antar negara dan antar masyarakat.[8]

  1. Pengaruh Globalisasi

Globalisasi, sebagaimana yang terjadi, dalam banyak hal, tidak hanya menawarkan sesuatu yang baru, melainkan juga revolusioner.[9] Fenomena globalisasi tidak melulu dalam pengertian ekonomi.  Globalisasi berdimensi politik, teknologi dan budaya, sebagaimana juga ekonomi. Globalisasi terutama sangat dipengaruhi  oleh berbagai perkembangan sistem komunikasi, yang baru dimulai akhir 1960-an.[10] Komunikasi elektronis yang cepat dan langsung bukanlah sekedar cara untuk menyampaikan berita atau informasi dengan lebih cepat. Keberadaannya mengubah setiap relung kehidupan kita, kaya atau miskin. Ketika gambar Nelson Mandela lebih kita kenal daripada wajah tetangga kita, sesuatu telah berubah dalam kodrat pengalaman kita sehari-hari.[11]

Konsekuensi akselerasi sejarah dan pencepatan aktivitas manusia di segala bidang kehidupan adalah meningkatnya kompleksitas permasalahan dalam kehidupan global itu sendiri.  Sebuah desa raksasa yang dihuni oleh berbagai ras, suku, corak budaya yang berbeda, dengan berbagai kesibukan aktivitas ekonomi, membanjirnya bentuk entertainment dan aktivitas kultural, semakin menguatnya tuntutan sosial, seperti tuntutan kebebasan, tuntutan kualitas hah-hak asasi manusia, tuntutan kepemerintahan yang baik (good governance) tuntutan pemeliharaan lingkungan hidup, jender, telah mendorong bangsa-bangsa yang dulu tidak tersentuh oleh peradaban modern semakin memahami kedudukan dan posisinya, baik dengan jalan menyesuaikan diri dengan tuntutan global maupun menyesuaikan diri dengan mainstream budaya dominan yang berkembang seperti virus dalam komputer, sangat cepat dan akurat.[12]

Konsekuensi lain dari berkah teknologi adalah meningkatnya intensitas pertemuan antar warga desa global dan meningkatnya intensitas pertemuan mereka. Di dalam berbagai tayangan di media massa dapat disaksikan bagaimana masyarakat multikultural saling bertemu, berbagi gagasan, berbagi pengalaman untuk mencapai tingkat persaudaraan dunia. Meski berbeda-beda bentuk tubuh, warna kulit, cara berpakaian, agama dan kepercayaan, tetapi perbedaan itu tidak menutup kemungkinan untuk saling berinteraksi dan bekerja sama.[13]

Pertemuan dan pertukaran terjadi sehingga mampu menjalin sebuah jaringan internasional dengan menempatkan komunikasi sebagai sesuatu yang vital. Namun banyak juga mereka yang apriori dan skeptis terhadap berkah dari teknologi yang dipercaya membawa perbaikan bagi kualitas kehidupan manusia. Antara lain Alvin Toffler yang mengilustrasikan masyarakat teknologis sebagai berikut: Di dalam masyarakat teknologis, kebebasan pribadi dianggap sebagai idel demikrasi. Meskipun orang pesimis bahwa hal itu dapat dicapai mengingat masa depan  sangatlah suram. Masa depat diisi oleh makhluk konsumen tanpa akal yang dikepung oleh produk standar, dididik dalam sekolah yang standar, dijejali olehmass culture yang standar pula, kemudian dipaksa mengikuti gaya hidup yang standar pula.[14]

Globalisasi dengan berbagai harapan yang ada di dalamnya pada akhirnya mempunyai pengaruh riil terhadap kehidupan kita baik sebagai individu, sebagai bagian dari masyarakat pemeluk agama, masyarakat yang bangsa dan bernegara, serta masyarakat dunia. Baik itu yang berdampak positif maupun negatif

Peranan komunikasi dalam era global telah berhasil tidak saja kemampuannya menyatukan berbagai wilayah yang terpisah, menjadi tergabung dalam sebuah desa raksasa bernama desa global, melainkan juga mampu membangun citra hidup global dengan keberhasilan ekonomi global, yakni di mana barang, jasa, orang-orang, keahlian dan gagasannya bergerak dengan bebas lintas batas geografis, relatif tidak terhambat dengan batasan-batasan tarif. Ekonomi global yang digerakkan oleh media massa elektronik secara signifikan memperluas dan membuat lingkungan persaingan perusahaan semakin kompleks.[15] Dengan kecanggihan teknologi internet yang menjadi penguasa tunggal komunikasi global, maka dampak positif yang dapat dirasakan adalah mudahnya memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan. Website-website yang berisi tentang informasi yang beragam tentang apapun. Hampir-hampir tidak ada satupun persoalan dan masalah yang luput dari bidikan website-website tersebut. Wilayahnya merambah ke berbagai perseoalan mulai persoalan-persoalan teologis yang metafisik, ideologi, politik, ekonomi dan sosial dan budaya. Mulai masalah fisika sampai masalah religiusitas.

Demikian halnya dengan komunikasi. Jika beberapa dekade lalu teknologi koran, radio, televisi dan telephone merajai bidang komunikasi, tidak demikian keadaannya pada beberapa tahun terakhir ini. Bidang komunikasi diambil alih perannya oleh email, dan jejaring sosial yang sangat marak digunakan dengan fasilitas yang beragam. Jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya memudahkan orang untuk berkomunikasi antar satu dengan lainnya. Tanpa ada sekat-sekat perbedaan kelas sosial, ekonomi, ideologi, budaya dan lainnya.

Dalam hal transportasi, era globalisasi telah memberi fasilitas transportasi yang mudah bagi manusia. Maskapai penerbangan domestik dan internasional telah memberikan berbai line penerbangan sampai ke ibukota propinsi yang jauh dan terpencil. Berkah dan hasil teknologi adalah faktor utama yang menghubungkan tempat yang jauh dipisahkan oleh lautan dan daratan, kini bersatu dalam lingkungan yang terpadu. Orang-orang yang tersebar di seluruh penjuru dunia yang tidak pernah membayangkan bahwa kini mereka mudah dapat bekomunikasi dan berinteraksi karena adanya akses informasi dan transportasi canggih.

Dalam kehidupan yang terintegrasi dalam dunia cyber, manusia diseragamkan oleh produk dunia global. Dalam waktu bersamaan globalisasi juga melahirkan budaya populer yang baru. Dalam proses produksi ekonomi, seni dan budaya, kecepatan produk, kuantitas dan  kecanggihan produk, telah membawa era modernisasi ke arah postmodernis. Orang tidak ingin hidup yang biasa-biasa saja.[16] Mereka mengekspresikan kehidupan dengan gaya hidup yang sesuai dengan semangat zamannya. Manusia menjadi kosmopolit dan sangat toleran. Orang Indonesia yang mayoritas Muslim, niscaya menyadari pentingnya perlindungan terhadap keyakinan yang minoritas. Kesadaran ini muncul, karena orang Indonesia Muslim menyadari bahwa di belahan dunia sana, ada orang-orang yang beragama Islam dan hidup dalam posisi minoritas. Jika muslim yang minoritas ini butuh perlindungan dan rasa aman di sebuah negara yang mayoritas Muslim, maka sama halnya keberadaan minoritas yang ada di negara Indonesia.

Globalisasi juga menyadarkan masyarakat dunia bahwa persaingan dalam berbagai bidang akan berlangsung dengan sengit dan cepat. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan akan terus menerus mengalami kemajuan dengan cepatnya. Dalam kesadaran demikian, niscaya masyarakat di era globalisasi harus berpadu untuk meningkatkan kualitas diri dalam bidang apapaun. Jika ia tidak mau melakukan ini, niscaya ia akan terseok-sek terseret oleh roda zaman yang terus bergerak menuju kemajuan beradabannya.

Dan yang nyata dari pengaruh positif era globalisasi adalah dipenuhinya kebutuhan hidup dengan mudah. Akibat dari arus teknologi informasi dan komunikasi yang menghujam kuat di tengah-tengah masyarakat, maka persaingan untuk mendapatkan keuntungan dari hal ini berdampak positif juga kepada pemenuhan dan kemudahan kebutuhan hidup. Jika dulu ada beberapa barang dan jasa hanya ditemukan di kota-kota besar, kini barang-barang itu, setidaknya sudah dapat ditemukan di kota-kota kecil, atau bahkan di desa. Dengan teknologi jaringan telephon selular atau handphone yang sekarang masuk ke pelosok desa, meniscayakan handphone sekarang tidak menjadi barang elit yang hanya dimiliki orang kota. Tapi hampir setiap orang di pedesaan juga punya akses yang sama.

  1. Konsekwensi globalisasi

Fenomena global terus berlangsung dengan akselerasi makin tinggi. Selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju tanpa ada pihak manapun yang mampu mecegahnya. Ironisnya, fenomena ini terjadi seiring dengan kekacauan hubungan antar negara, terorisme dan kolonialisme gaya baru. Itulah kekacauan peradaban di tengah gegap gempitanya globalisasi, terlihat dalam lingkungan global yang makin memprihatinkan, baik dalam segmen demografis, sosio-kultural, ekonomi, teknologi, politik, maupun dalam segmen hukum serta budaya global.[17]

Konsekwensi lain dengan adanya globalisasi antara lain, informasi yang tidak tersaring. Di era gloibalisasi informasi hampir-hampir bisa di katakan tidak ubahnya dunia yang menjadi kampung yang sempit yang semua informasi dapat didengar dan lihat dari sini. Meskipun kejadiannya berada di tempat yang jauh di ujung benua sana. Dalam kasus penggulingan Presiden Mursi yang terpilih secara demokratis di Mesir, misalnya. Demonstrasi yang menyemut yang memenuhi lapangan Tahrir, dan Jembatan sungai Nil sampai ke Masjid Rabi’ah al-Adawiyyah yang menjadi base camp kelompok politik al-Ikhwan al-Muslimun, seolah-olah terjadi di negeri yang tidak jauh dari sini. Mayat-mayat yang bergelimpangan bersimbah darah yang dijajar seperti suatu tempat setelah terjadi penyerangan tentara Mesir terhadap kubu pro Presiden Mursi dapat dilihat dengan jelas dari sini. Sejelas-jelasnya, sampai potongan muka seorang korban yang hampir hancur pun dapat dilihat dengan jelas.

Di sisi lain, tayangan-tayangan yang merusak moral, seperti disahkannya perkawinan sesama jenis di beberapa negara, video-video cabul yang merusak generasi muda, hampir hampir dengan mudah meracuni generasi muda karena begitu mudahnya di dapatkan, baik itu melalui kaset-kaset VCD yang diperdagangkan secara ilegal, maupun situs-situs internet yang secara khususmengiming-imingi dagangan semacam itu.

Globalisasi juga mengakibatkan masyarakat yang tidak kreatif, karena berperilaku konsumtif. Globalisasi memasukkan kita ke dalam jurang sikap konsumtif yang berlebihan. Produk-produk impor yang ditayangkan di hadapan kita, baik lewat televisi, koran-koran dan media internet mengakibatkan tergerusnya produk lokal dan gulung-tikarnya industri kecil yang tidak mampu membayar iklan dan propaganda. Anak-anak  masyarakat perkotaan kelas menengah sudah merasa tidak nyaman, kalau hanya diajak berlibur orang tuanya dengan makan-makan di warung Tegal, warung Padang, nasi pecel dan makanan lokal. Seolah ikut mengglobal, lidah mereka hanya merasa nyaman dan rileks ketika diajak makan-makan di Kentucky Fried Chicken (KFC), Mc Donald’s, Burger King, Subway, Popeyes Louisiana Kitchen dan makanan produk impor lainnya. Demikian halnya dengan gaya berpakaian yang harus berbau produk yang bermerk, hasil impor dari negara jauh di sana. Merek-merek impor seperti Lee Capeer, Panini, Nike, Puma dan lainnya menggeser merek-merek lokal seperti Danar Hadi, Keris, dan merek merek lain yang  meskipun banyak kita temukan di pasar-pasar tradisional. Eksistensi produk mereka tidak lebih hanya bisa menguasai ekonomi kelas bawah dan pinggiran. Batik seolah hanya bagian dari nostalgia masa lalu dan hanya pantas dipakai orang-orang tua. Itu pun hanya dalam acara-acara resmi pernikahan dan lainnya.

Globalisasi juga berakibat pada sikap yang menutup diri dan berfikir sempit. Dengan berjam-jam menonton berita dan acara-acara lain yang ditayangkan oleh stasiun televisi, orang sudah merasa lebih tahu tentang apa yang terjadi di dunia saat ini. Ia tidak menyadari bahwa di luar rumahnya,  ada lingkungan tetangga yang juga mempunyai permasalahan yang tidak kalah kompleks. Belakangan ini, orang sudah merasa lebih gaul ketika sudah eksis di dunia maya seperti di jejaring Twitter atau Facebook. Banyaknya teman di Facebook seolah menunjukkan eksistensi mereka dalam pergaulan global. Ketika seorang Facebooker, begitu mereka menyebut, telah membuat statemen yang dikenal dengan status, kemudian diberi tanda jempol yang melambangkan respek terhadap statement tersebut dan banyak Facebooker lain yang memberi komentar dan ulasan,  hal itu seolah menunjukkan bahwa mereka betul-betul eksis di dunia Facebook atau Twitter. Dan uniknya pergaulan maya itu dilakukan di depan komputer selama berjam-jam dan tidak kenal waktu. Pergaulan tidak lagi bagaimana kita bersilaturrahmi dengan saudara, tetangga kita dan teman-teman kita di dunia nyata, tapi seolah terwakili dalam lipatan satu kotak mesin canggih yang bernama komputer yang menawarkan banyak fasilitas untuk berkomunikasi dan saling memberi informasi.

Barang kali pengaruh negatif dari globalisasi yang paling ironis yaitu mudah meniru perilaku buruk dan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan setempat. Dalam konteks olahraga, sepakbola merupakan olahraga yang paling mendominasi pemberitaan, baik itu di televisi, radio, koran dan jejaring internet. Namun dalam perkembangannya yang menjadi tayangan sepak bola bukannya berisi pendidikan fisik atau mental bagaimana agar anak negeri ini dapat berprestasi, seperti mereka yang berhasil menjadi bintang sepakbola. Tetapi gaya hidup mereka yang bergelimangan harta, berganti-ganti pacar dan gaya rambut yang aneh yang menjadi dagangan beritanya. Akibatnya yang ditiru oleh anak-anak muda bukannya bagaimana proses perjuangan bintang-bintang sepakbola itu, sehingga mereka mampu menjadi bintang sepak bola yang mendunia. Tetapi hanya gaya rambutnya yang aneh yang memancing perhatian, atau memberpincangkan villa mewah yang dibeli di beberapa tempat dan koleksi mobil mewah, atau bahkan pacarnya yang bergonta-ganti sampai lebih dari 10 kali.

Dalam tayangan wawancara, dalam tradisi Barat, terutama Amerika, ada budaya cium pipi ketika mengawali pertemuan. Ketika budaya itu ditiru oleh para presenter lokal, maka tidak pelak lagi perilaku itu pun mulai ditiru oleh anak-anak muda. Bahkan mereka yang masih duduk dibangku SMA. Berdasarkan informasi yang didapatkan oleh penulis, dari adik penulis yang kebetulan mengajar di sebuah SMA di sebuah desa yang jauh dari kota, yang notabene berada di lingkungan santri. Budaya cium pipi ini juga sudah menggejala, meskipun dilakukan dalam kelompok yang tertutup. Logika penulis, Jika perikalu yang menyimpang dari akar moral dan budaya setempat ini sudah mulai menjalar di desa yang cukup jauh dari kota ini, bagaimana yang terjadi di kota-kota?

Tentu saja masih banyak untuk disebutkan pengaruh negatif dari globalisasi yang berkaitan dengan moral. Tidak jarang kita temukan berita tentang anak di bawah umur yang memperkosa temannya akibat menonton video porno, perilaku lesbian yang terang-terangan dan lainnya.

  1. Agama Melawam Globalisasi

Setelah diatas dikemukakan tentang berkah dan bencana yang diakibatkan oleh globalisasi, maka kini saatnya dipertanyakan bagaimana peran agama di tengah pusaran arus globalisasi. Agama seharusnya tidak bisa hanya bisa menyalahkan keadaan, bahwa dekadensi moral dan penyimpangan-penyimpangan perilaku negatif yang sebagian telah diuraikan di atas adalah korban dari dampak negatif globalisasi. Agama, sebagai benteng moral terakhir yang diharapkan masyarakat, harus mampu melawan derasnya arus globalisasi yang melanda dunia. Agama jangan sampai ikut jadi korban dari globalisasi itu sendiri. Agama yang beberapa waktu lalu terpinggirkan dari arus globalisasi harus mampu bermain ke tengah pusaran globalisasi, setidaknya mengarahkan globalisasi yang cenderung merusak menjadi globalisasi yang mencerahkan.

Watak Islam yang mendunia, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah: “Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam”[18], harus dieksplorasi secara maksimal agar dalam era globalisasi medan dakwah juga ikut berperan menertibkan dunia dengan ajakan-ajakan iman kepada Allah, berbudi pekerti yang baik dan berperilaku seperti yang diajarkan Allah dan RasulNya.

Dalam upaya ini agama memang mempunyai harapan dan tantangannya sendiri. Di dalam dunia jejaring internet, banyak kita temukan situs-situs dakwah yang sangat bernuansa agama. Bahkan ditemukan keragaman dalam menyuguhkan dakwah. Situs-situs yang diterbitkan oleh beberapa lembaga di Timur Tengah, menawarkan kitab-kitab tentang ilmu-ilmu keIslaman yang dapat diakses dan di-download secara gratis. Kitab-kitab klasik dan kitab-kitab kontemporer dalam berabagi bidangnya semua dapat di-download secara gratis. Disamping itu banyak pula tokoh agama yang menjadi ikon situs internet yang berisi tentang rangkuman tulisan, rekaman dakwah mereka dan tanya jawab secara on-line.

Di Indonesia sendiri saat ini sudah banyak kita temukan situs-situs dakwah tersebut. Organisasi-organisasi keagamaan berlomba-lomba untuk menampilkan situs-situs resmi sebagai media dakwah. Bahkan beberapa tokoh kyai, seperti KH Mustofa Bisri merelakan dirinya terlibat dalam pergaulan di dunia maya, baik di Twitter dan Facebook untuk dapat merebut kesempatan dakwah lewat jejaring sosial tersebut. Dakwah yang dilakukan di jejaring sosial ini sudah cukup beragam temanya. Ada yang bertemakan tanya jawab agama Islam, ada yang secara khusus membahas sejarah pribadi Rasulullah dan budi pekerti beliau. Ada yang membahas hukum-hukum fikih. Ada pula yang mengulas tentang kondisi ekonomi dan politik dunia Islam kontemporer. Dalam hal keompetisi dakwah di dunia maya memang sudah cukup ada perkembangan yang signifikan.

Namun tidak berbanding lurus dengan realitas di atas, ketika sudah masuk ke ranah media Massa. Tantangan terasa berat ketika dakwah yang dimaksud memakai sarana televisi atau koran. Agama masih mempunyai peran yang sangat termarjinalkan. Dakwah Islam mempunyai porsi yang sangat-sangat timpang, jika dibandingkan dengan acara hiburan dan lainnya. Acara yang berisi pencerahan kegamaan hanya bisa tayang pada jam-jam sepi penonton. Acara keagamaan hanya punya jam tayang jam tiga pagi sampai jam enam. Itu pun berdurasi hanya setengah sampai satu Jam. Atau kalau pada acara mingguan, acara keagamaan hanya mendapat porsi hari Sabtu dan Minggu yang berdurasi tidak lebih dari satu jam. Sementara di koran, tulisan yang mengulas masalah keagamaan hanya dapat ditemukan di hari Jum’at yang kolomnya tidak lebih dari setengah halaman.

Memang tantangan berat menghadang di depan kita kalau sudah bicara persaingan global yang terkait dengan dakwah dan agama. Namun seberat apapun tantangan dan rintangan itu, tokoh-tokoh agama harus terus-menerus berusaha keras bagaimana agama mampu memainkan peran dalam rangka membentengi moral bangsa, akibat gempuran globalisasi yang tidak mungkin, dan tidak akan pernah dapat dihentikan dan dibendung lajunya.

  1. Penutup

Era globalisasi memang harus diakui menaruh harapan dan kemudahan di satu sisi, namun di sisi lain ia juga merupakan ancaman dan bahaya kalau tidak disikapi dan di antisipasi dengan baik. Di ranah ini, agama dan tokoh-tokoh agama punya peran besar untuk bagaimana mengarahkan dan mengendalikan tuntutan globalisasi agar wajah dunia tidak semakin hancur akiban kerusakan perilaku dan moral yang diakibatkan oleh globalisasi. Memang terasa aneh dan terasing, memeprsoalkan agama di tengah-tengah globalisasi yang mengarah kepada kehidupan yang hedonis. Namun bukankan Nabi telah berpesan, bahwa yang terasing dan aneh di akhir zaman justru itu adalah golongan yang beruntung?

Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Islam itu bermula dari keterasingan dan akan kembali terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu”. Sahabat Rasulullah yang mendengar sabda ini penasaran dan bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang terasing itu”. Jawab Rasulullah: “Mereka itu ialah orang-orang yang berusaha memperbaiki sunnah-sunnahku yang telah dirusak oleh manusia”.[19]

Hanya Allah Yang Maha Tahu.

Daftar Pustaka

–          Anthony Giddens, Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita, Terj. Andry Kristiawan S dan Yustina Koen S (Jakarta: Gramedia, 2004) cet ii

–          St. Nugroho, Latar Belakang Kebesamaan sebagai Bangsa dalam Tantangan Sosial Dewasa ini, dalam Andre Ata Ujan dkk,Multikulturalisme Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan (Jakarta Barat: Indeks, 2011) cet iii

–          Andrik Purwasito, Komunikasi Multikultural, (Surakarta: UMS Press, 2003) cet I.

–          Alvin Toffler, Future Shock, 1970, terjemahan Kejutan Masa Depan, (Jakarta: Pantja Simpati, 1992)

[1] Anthony Giddens, Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita, Terj. Andry Kristiawan S dan Yustina Koen S (Jakarta: Gramedia, 2004) cet ii, hlm 1.

[2] Ibid, hlm 2

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] St. Nugroho, Latar Belakang Kebesamaan sebagai Bangsa dalam Tantangan Sosial Dewasa ini, dalam Andre Ata Ujan dkk, Multikulturalisme Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan (Jakarta Barat: Indeks, 2011) cet iii, hlm  7. St Nugraha mengutip R. Robertson,Globalization (London: Sage, 1992) hlm 8.

[6] Ibid, St Nugroho mengutip A. Giddens, The Consequences of Modernity (Cambridge: Polity, 1990) hlm 64

[7] Ibid, St Nugroho mengutip R.O. Keohane dan Joseph S. Nye, Globalization: What’s New? What’s Not (And So What?) dalam Foreign Policy (Spring, 2000) hlm 105.

[8] Ibid.

[9] Anthony Giddens, Bagaimana Globalisasi…. Hlm 5.

[10] Ibid

[11] Ibid, hlm 7

[12] Andrik Purwasito, Komunikasi Multikultural, (Surakarta: UMS Press, 2003) cet I, hal 19.

[13] Ibid.

[14] Alvin Toffler, Future Shock, 1970, terjemahan Kejutan Masa Depan, (Jakarta: Pantja Simpati, 1992) hal. 237.

[15] Andik Purwasito, Komunikasi Multikultural, (Surakarta: UMS Press, 2003) cet I, hal 20.

[16] Ibid, hal 28.

[17] Ibid, hal 31

[18] Q.S. al-Anbiyaa’: 107

[19] H.R. Ahmad dari Abu Hurairah.

WordPress Themes