STAI AL ANWAR, SARANG
(+62 356) 4 111 22

Sarang – Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Anwar kembali menggelar Pekan Pustaka ke dua pada tahun ini. Setelah sebelumnya dihadiri oleh Najwa Shihab dan Habiburrahman, Pekan Pustaka kali ini mengundang budayawan Kondang asal semarang, Prie GS pada Ahad (7/5).

Acara yang mengangkat tema “ Spiritualitas Dan Lokalitas Wajah Pendidikan Indonesia” tersebut mendapat antusiasme yang besar dari mahasiswa dan masyarakat. Terlihat halaman kampus dipadati oleh mahasiswa dan ratusan pengunjung.

Acara tersebut dibuka langsung oleh ketua STAI Al-Anwar, Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen. Dalam sambutannya, beliau merasa senang mahasiswanya bisa bertemu dengan berbagai tokoh dan kalangan secara langsung, dan dari berbagai latar belakang yang bermacam-macam. “ Semoga nanti teman-teman mahasiswa dapat belajar banyak dari Mas Prie, terlebih dalam mengenal lebih jauh tentang budaya Jawa” terang Doktor jebolan Al-Azhar kairo tersebut.

Budayawan yang akrab disapa Prie Gs ini mengaku senang dapat menghadiri acara talkshow di kampus yang berada di bawah naungan KH. Maimoen Zubair tersebut. Sebab, selain mengisi talkshow ia juga bisa bisa sowan ke kediaman ulama karismatik, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Mbah Maimoen. “Saya jumpa hanya 15 menit sama beliau, tapi dawuh beliau kalau tak jabarkan, bisa jadi buku” terang Mas Prie yang disambut tepuk tangan dari para mahasiswa.

Sebagai seorang budayawan dan pemerhati sosial, Prie Gs mulanya menjelaskan tentang prilaku masyarakat yang mempengaruhi wajah pendidikan Indonesia. Adab prilaku yang terjadi di masyarakat sangat berpengaruh. Sebab, hal tersebut berhubungan dengan spritualitas dan lokalitas suatu bangsa. “Dalam spiritualitas adab memegang peran yang sangat penting. Karena inti dari spiritualitas adalah kerendahan hati “ terang budayawan yang juga kartunis tersebut.

Mas Prie lalu melanjutkan, ia sangat menyayangkan belakangan ini banyak sekali suguhan yang tidak beradab di masyarakat. Adab prilaku yang tidak patut disuguhkan pada anak menjadi sebuah kebudayaan yang buruk bagi wajah pendidikan Indonesia. Sebab, output terbesar dalam pendidikan yaitu kebudayaan itu sendiri “ prilaku remaja kita itu menjadi cermin dari hasil pendidikan Indonsia” Pungkasnya.

Ubaidil Wahab, salah seorang mahasiswa semester 8 mengaku sangat senang mengikuti acara talkshow kali ini. Ia merasa beruntung dapat bertatap langsung dengan Prie GS “ Pokoknya, Mas Prie itu orangnya filosofis sekali, cukup itu saja” terang mahasiswa asal Jepara Itu.

(AMR/ReportAWR)

WordPress Themes