STAI AL ANWAR, SARANG
(+62 356) 4 111 22

Sarang – Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Anwar mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah dalam acara “Konsultasi Publik dalam Rangka Penyempurnaan Terjemahan Al-Quran”, acara tersebut diselenggarakan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI bekerja sama dengan STAI Al-Anwar pada Selasa, (14/2).

Acara yang dihadiri oleh 50 peserta ini dilaksanakan dalam rangka menghimpun masukan dan saran dari berbagai elemen masyarakat. Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Mukhlis Hanafi, selain sidang reguler, dalam penyempurnaan terjemah ini juga ada konsultasi publik yang dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia “ke depan kita juga akan membuat portal online yang menampung masukan dari siapa saja dalam penyempurnaan terjemah Al-Quran”. Terang ketua Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ).

Forum ini dilangsungkan mulai pukul 08.30 dan dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama diisi oleh Dr. Mukhlis Hanafi, MA selaku ketua Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran dan Sriyanto, M. Hum., selaku ahli bahasa yang diikut sertakan dalam penyempurnaan terjemah Al-Quran. Dalam paparannya, Dr. Mukhlis memberi beberapa penjelasan terkait sejarah dan perkembangan terjemah Al-Quran di Indonesia beserta seluruh problematika yang mengiringinya. Pasalnya, ada banyak prinsip yang perlu diperhatikan dalam menerjemahkan Al-Quran. Menurutnya ada empat aspek penting dalam hal tersebut, aspek subtansi, aspek konsistensi, aspek kebahasaan dan  aspek sistematika atau format penulisan. Sementara Sriyanto, M. Hum, selaku pakar bahasa mencoba menjabarkan berbagai kategori dan prinsip dalam penulisan tata bahasa secara baik dan benar.

Gus Baha’, sedikit bercerita tentang pengalaman beliau yang pernah menjadi tim penerjemah Al-Quran di UII Jogja, beliau menjelaskan bahwa salah satu buku penting yang digunakan dalam rujukan adalah terjemahan Kemenag versi 1974. Beliau juga menegaskan tidak pernah meninggalkan terjemahan Kemenag, “bagaimana pun yang diputuskan orang banyak itu lebih kredibel, karena ada gesekan, ada perdebatan” tegas pakar tafsir lulusan Al-Anwar Sarang tersebut. Pada majlis yang sama, Gus Ghofur, sapaan akrab Dr. Abdul Ghofur Maimoen menjelaskan beberapa produk-produk terjemah berhaluan fiqih dan aqidah. Di sini beliau menegaskan betapa pentingnya peran ahli fiqih, balaghah, Bahasa dan beberapa pakar lain guna mencari titik tengah paling tepat dalam menerjemahkan Al-Quran “oleh sebab itu, kita kadang dalam menerjemah  butuh berjam-jam untuk diskusi ”. Tegas Doktor lulusan Al-Azhar Kairo ini.

Salah seorang peserta, Akrom Adabi mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Menurutnya, Sarang adalah tempat yang tepat untuk dijadikan konsultasi publik dari LPMQ. Selain karena dipenuhi oleh para ahli dari berbagai pakar agama termasuk Al-Quran, Sarang juga mulai memiliki lembaga perguruan tinggi yang juga berkonsentrasi pada Al-Quran dan tafsir. “Kemenag tidak salah pilih tempat mengadakan acara konsultasi publik ini”, terangnya penuh antusias.

Konsultasi publik ini mendapat respon dan masukan yang baik dari para peserta yang hadir, dan menjadi bahan pertimbangan penting bagi tim LPMQ Kementrian Agama yang telah berupaya keras dalam melakukan penyempurnaan terhadap Al-Quran. LPMQ merasa berterimakasih terhadap berbagai masukan dan temuan-temuan, beliau meminta agar hasil diskusi itu semuanya dicatat dan dikirimkan ke LPMQ serta dibawa dalam sidang guna penyempurnaan.

WordPress Themes