STAI AL ANWAR, SARANG
(0295) 5391410

1] Imam al-Bukhari (194 – 256 H)

Imam Bukhari sering disebut sebagai amir al-mukminin atau penghulunya Umat Islam dalam perkara hadis. Bahkan, di kalangan para ahli hadis sendiri, beliau didaku sebagai imam atau pemimpin para ahli hadis dan maha guru dari segenap penghapal hadis di masanya.

Imam Bukhari mempunyai nama lengkap, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fiy. Beliau dilahirkan apada hari Jum’at pada tanggal 13, bulan Syawwal, tahun 194 H, di Bukhara. Nama al-Ju’fiy merupakan sebutan nasab perwalian kakek buyutnya ketika masuk Islam di hadapan al-Yaman al-Jahfiy, sementara ayah dari kakek buyutnya sendiri diketahui tetap memeluk agama Majusi hingga akhir hayatnya.

Riwayat kakek Imam Bukhari, Ibrahim, nampaknya hampir tidak tercatat. Sedangkan, ayahnya, Isma’il, terkenal sangat alim, dan juga berguru kepada beberapa ulama terkenal seperti Hamaad bin Zaid dan Imam Malik bin Anas. Nama ayahandanya masuk dalam kitab ats-Tsuqaat karya Ibnu Hibbaan dan at-Tarikh al-Kabir karya Imam Bukhari sendiri.

Ketika ayahnya meninggal, beliau masih terbilang kecil, sehingga ibunya merawat dan mendidiknya seorang diri. Biaya pendidikannya itu didapat dari harta peninggalan ayahnya. Sejak kecil, beliau senantiasa mendapat pertolongan Allah Swt. Dikisahkan dari masa kecil beliau, kedua matanya pernah mendapat musibah, hingga ibundanya amat khawatir dan teramat sedih. Ibundanya tak henti-henti meminta kesembuhan kedua matanya. Hingga pada suatu malam, ibundanya memimpikan melihat Nabi Ibrahim AS, yang kemudian berkata kepada ibundanya: “Sungguh! Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu sebagaimana sediakala, karena seringnya engkau berdo’a.” Ketika ibunda Imam Bukhari bangun di pagi hari, ia mendapati penglihatan anaknya sudah kembali seperti sediakala. Kesedihannya pun berganti menjadi kegembiraan dan suka cita.

Imam Bukhari sudah menampakkan kecerdasan luar biasa sejak kecil, barangkali bakat bawaan yang didapat dari ayahnya. Selain sifat rendah hati, Imam Bukhari kecil mempunyai kemampuan hapalan yang amat kuat dan otak yang encer. Di usia sepuluh tahun, beliau banyak belajar kepada ulama-ulama dan para imam hadis di negerinya. Dan pada usia enam belas tahun, beliau sudah mampu hapal dan menguasai kitab karya Ibn al-Mubarak, karya-karya Imam Wakii’, juga cara berpikir kaum rasionalis (ahl al-ra’yi). Di usia enam belas tahun pula, beliau melakukan perjalanan intelektual pertamanya ke luar Bukhara. Mula-mula, beliau pergi ke kota Makkah bersama ibu dan saudaranya, Ahmad, untuk menunaikan ibadah haji. Ketika itu, kota Makkah merupakan pusat keilmuan terpenting di daerah Hijaz. Setelah cukup menimba ilmu di Makkah, beliau tak lupa mengunjungi kota Madinah. Di dua kota inilah, sebagian karya-karya beliau dikarang.

Tak cukup mengunjungi kota Makkah dan Madinah, beliau mengelana ke berbagai pusat-pusat intelektual dan menemui para maha guru hadis di berbagai penjuru dunia Muslim di masanya. Dari perjalanan intelektualnya tercatat, ia mengunjungi Syam (Syiria), Mesir, dua kali ke Jazirah, tak kurang dari empat kali ke Bashrah, tinggal di Hijaz selama enam tahun, juga melakukan perjalanan yang hampir tak terhitung berapa kali ke Kufah dan Baghdad, juga menyinggahi daerah-daerah lain hanya untuk sekedar lewat atau menetap sebentar. Baghdad sendiri ketika itu merupakan pusat pemerintahan Islam dan tanah airnya para ulama terkenal. Di Baghdad pula ia berkali-kali bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Selain memulung hadis dan ilmu, selama perjalanannya ke berbagai kota tersebut beliau juga tak lupa mencatat dan membuat karya-karya di setiap malam dan kesempatan.

Selama melakukan perjalanan intelektual, Imam Bukhari banyak berguru kepada para ulama yang dapat dipercaya (amanah) dan punya kredibilitas tinggi (tsiqah). Beliau mengatakan: “Aku menulis (dan meriwayatkan hadis) dari 80.000 laki-laki, yang kesemuanya adalah periwayat hadis. Aku tidak menulisnya dari ulama, kecuali yang mengatakan bahwa iman adalah ucapan sekaligus perbuatan.” Diantara guru-guru beliau yang termasyhur ialah: ‘Ali Ibn al-Madiny, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yuusuf al-Firyaaby, Makiy bin Ibrahim al-Balkhiy, Muhammad bin Yuusuf al-Baykindy, Ibn Rahawaih, dan beberapa guru lain dimana beliau meriwayatkan hadis dalam kitab Shahih-nya sejumlah 289 guru.

Berbekal semua itu, beliau dianggap sebagai maestro hadis yang tanpa tanding. Kekuatan hapalan, kecerdasan, dan pengetahuannya mengenai rijal al-hadits serta kemahirannya akan ‘ilal al-hadits, amat mengagumkan. Beliau mampu menghapal sebanyak 100.000 hadis shahih dan 200.000 hadis tidak shahih. Suatu kisah menceritakan, ketika beliau mengunjungi Baghdad, ulama-ulama Baghdad berkumpul hendak menguji pengetahuan beliau mengenai hadis. Para ulama hadis Baghdad mengajukan 100 hadis yang matan dan sanad-nya sudah dibolak-balik dan ditukar satu sama lain. Ketika para ulama mengajukan hadis tersebut, sepuluh-sepuluh, kepada Imam Bukhari, beliau mengatakan tidak mengenal hadis seperti itu. Lebih dari itu, selanjutnya, beliau mengoreksi dan memasangkan kembali sanad dan matan yang tepat dan benar hingga genap 100 hadis, hingga sampai-sampai diantar ulama Baghdad mengatakan: “Alangkah menakjubkan apa yang beliau lakukan. Namun, yang paling menakjubkan dari itu ialah, ia hanya butuh sekali saja kesempatan mendengarkan untuk mengetahui bahwa hadis-hadis itu sudah dibolak-balik, dan memang keliru susunannya.”

Imam Bukhari juga mempunyai banyak murid yang tak terhitung jumlahnya, terbilang tak kurang dari 90.000 murid. Sebagian muridnya yang termasyhur, diantaranya: Muslim bin al-Hajaaj, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibn Huzaimah, Ibn Abi Daawud, Muhammad bin al-Firabry, Ibrahim bin Mi’qal an-Nasafy, Hamaad bin Syaakir an-Nasawy, Manshur ibn Muhammad al-Bazdawy.

Ketika di dunia Muslim terjadi fitnah besar (mihnah) dalam persoalan apakah al-Qur’an itu makhluk atau bukan, yang turut menyeret Imam Ahmad bin Hanbal masuk penjara dan mendapat siksaan dari aparatus kekuasaan pemerintah berkuasa, Imam Bukhari jatuh sakit mendengarnya. Sempat pula, beliau menolak menghadiri undangan pemerintah untuk menjelaskan persolan yang sama. Apalagi, warga Samarkhan memintanya untuk singgah. Namun baru sampai daerah Khartank (kurang lebih 2 mil dari Samarkhan), beliau wafat. Saat itu beliau berumur 62 tahun kurang 13 hari, tepatnya pada tahun 256 H dikala kaum Muslim tengah merayakan Hari Raya Idul Fitri. Di waktu sekaratnya beliau berpesan, agar dikafankan dengan tiga helai kain tanpa pakain kebesaran (qamish dan ‘imamah).

Imam Bukhari melahirkan banyak sekali karya, namun yang paling masyhur ialah: al-Jami’ al-Shahih, al-Adab al-Mufrad, at-Tarikh as-Shaghir, at-Tarikh al-Awsath, at-Tarik al-Kabir, at-Tafsir al-Kabir, al-Musnad al-Kabir, Kitab al-’Ilal, Raf’u al-Yadain fi as-Shalat, Birru al-Waalidain, Kitab al-Asyribah, al-Qira`atu Khalfa al-Imam, Kitab ad-Dhu’afa`, Usaamy as-Shahabah, dan Kitab al-Kunaa.

al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari

Dari banyak karyanya itu, yang paling mendapat perhatian sepanjang jaman ialah al-Jami’ al-Shahih. Para ulama hadis sebelum Imam Bukhari, belum ada yang pernah meyusun kitab hadis dengan menghimpun hadis-hadis yang shahih saja. Kitab-kitab hadis yang dikarang sebelumnya, mencampur berbagai kualitas hadis, baik shahih, hasan, dha’if, dalam satu himpunan kitab hadis, dan menyerahkan sepenuhnya kepada para pembaca dan pengkritik hadis untuk menentukan kualitas hadis-hadis yang terkandung. Atas dasar inilah, Imam Bukhari merasa perlu untuk menyusun sebuah kitab hadis yang hanya memuat hadis-hadis yang shahih saja, yang dinamainya: “al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umuuri Rasulillah Saw. wa Sunanihi wa Ayyaamihi.”

Dalam menyusun himpunan hadis shahih-nya itu, beliau amat mengutamakan kehati-hatian dan kecermatan. Sampai-sampai beliau shalat dua rakaat terlebih dahulu setiap kali meneliti satu hadis, sehingga beliau yakin bahwa hadis yang tengah ditelitinya itu benar-benar mempunyai kualitas shahih. Dari sejumlah 600.000 hadis yang ditelitinya, menurut Ibn Hajar al-‘Asqalany, hanya sebanyak 7.397 hadis (dengan pengulangan disana-sini, namun minus hadis yang masuk kategori muallaq, muttabi’, dan mauquf) yang beliau masukan dalam himpunan al-Jami’ al-Shahih-nya. Jika tanpa pengulangan, jumlah hadis dengan matan yang bersambung berjumlah sebanyak 2.602 hadis. Jika dihitung secara keseluruhan, al-Jami’ al-Shahih memuat: 159 hadis berkategori muallaq; 7.397 hadis berkategori shahih dengan pengulangan disana-sini; 1.341 hadis berkategori ta’liq (yang terkenal sebagai ta’liq al-Bukhari); dan 344 hadis dengan kategori muttabi’, sehingga keseluruhannya berjumlah 9.072 hadis. Lepas dari itu, jika diperhatikan secara seksama, betapa Imam Bukhari begitu ketat dan serius dalam mempersiapkan kitab hadis shahih-nya itu. Sebab dengan begitu, beliau tak kurang menyisihkan 590.000 hadis yang pernah ditelitinya.

Al-Jami’ al-Shahih sendiri disusun berdasarkan pembagian kitab dan bab. Kitab dan bab pertama diberi judul Bad`u al-Wahyi, tema yang dianggap merupakan dasar dari semua syari’at Islam; selanjutnya Kitab al-Iman; Kitab al-‘Ilm; Kitab at-Thaharah; Kitab as-Shalat; Kitab az-Zakaat; dan seterusnya. Secara keseluruhan terdapat 97 Kitab, yang mencakup 3.450 bab. Jumlah hadis pada masing-masing bab amat beragam. Ada bab yang banyak sekali memuat hadis, namun ada juga bab yang hanya memuat satu hadis. Pada masing-masing bab, ada yang disisipkan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan ada juga yang tidak. Banyak hadis, sebagiannya atau secara utuh, diulang-ulang pada beberapa kitab dan bab, bahkan kadang dalam bentuk ringkasannya saja. Hal itu dilakukan karena menyesuaikan hukum yang terkandung didalamnya. Mengomentari karya Imam Bukhari ini, ad-Dzahaby mengatakan, “al-Jami’ al-Shahih adalah kitab yang paling agung dan paling afdhal setelah al-Qur’an”.

Kriteria Kesahihan Hadis
ala Imam Bukhari

Para ulama hadis menetapkan beberapa kriteria, sehingga sejauh mana suatu hadis dikatakan punya kualitas shahih, yakni: perawinya harus seorang Muslim; berakal; jujur; tidak mudallis (dimana seseorang meriwayatkan hadis dari orang sejamannya seolah-olah ia mendengarnya secara langsung, padahal ia tidak meriwayatkan darinya secara langsung dari orang sejamannya itu); tidak mukhtalit (orang yang banyak melakukan kekeliruan disengaja atau tidak karena faktor usia tau cacat yang disandangnya); ‘adil (dikenal takwa dan menjaga kesucian dirinya); dhabit (kuat hapalan dan tulisan); emosi dan pemikirannya jernih; sedikit sekali melakukan kekeliruan; dan mempunyai akidah yang benar.

Jika ditanyakan, apakah Imam Bukhari menetapkan kesemua kriteria diatas dengan baik? Jawabnya ialah, tentu saja beliau menerpakan kriteria-kriteria diatas. Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa beliau sesungguhnya melampaui imajinasi para ulama hadis lainnya dalam menyeleksi hadis.

Imam Bukhari memang tidak pernah secara eksplisit menyebut kriteria hadis shahih yang diterapkannya dalam al-Jami’ al-Shahih. Namun begitu, kriteria kesahihan yang dianutnya dapat diketahui dari penelaahan para ulama dan kritikus hadis sesudahnya. Dari situ diketahui bahwa Imam Bukhari tidak saja menerapkan kriteria bagi hadis shahih sebagaimana dikehendaki para ulama hadis, lebih dari itu beliau menyeleksi dan hanya mengambil hadis dari para periwayat yang mempunyai derajat paling tinggi dalam semua kategori penilaian bagi periwayat hadis shahih. Misalnya saja: jika ada riwayat dari Imam al-Zuhry, maka beliau akan mengambil periwayat dari tingkat pertama (thabaqat al-`ula) murid-murid Imam al-Zuhry, yang dalam berbagai segi paling unggul. Baik dari segi keadilannya (‘adil), kekuatan hapalannya (al-dhabtu al-tam), keteguhan keyakinan dan kepercayaannya (al-itqan wa al-amanah), serta lamanya bergaul dengan Imam al-Zuhry, baik ketika menetap maupun ketika dalam lawatan ke tempat-tempat lain (musafir).

Perlu diketahui, murid-murid Imam al-Zuhry terbagi kepada lima tingkatan. Tingkat pertama (thabaqat al-`ula) ialah murid-murid Imam al-Zuhry yang punya keunggulan sebagaimana disebut diatas, seperti Imam Malik bin Anas dan Sufyan bin ‘Uyainah. Dari tingkat inilah, Imam Bukhari banyak meriwayatkan hadis. Tingkat kedua (thabaqat al-tsaniyah), ialah murid yang punya kriteria kredibilitas sebagaimana tingkat pertama, kecuali pergaulannya dengan Imam al-Zuhry yang hanya terbilang sebentar, baik ketika menetap maupun musafir, seperti al-Awzaa’iy dan al-Laits Ibn Sa’ad. Dari tingkatan ini, Imam Bukhari hanya mengambil sedikit saja riwayat. Sebaliknya, Imam Muslim banyak meriwayatkan dari tigkatan ini (didepan pembahasan ini akan lebih diperinci). Tingkatan ketiga (thabaqat al-tsalits) ialah mereka yang tidak memenuhi kriteria kredibilitas dan kriteria apapun sebagaimana pada tingkatan kedua, seperti Ja’far bin Barqan dan Zam’ah bin Shaalih, dimana Imam Bukhari, tidak meriwayatkan satu hadis pun dari periwayat di tingkatan ini. Kecuali, untuk keperluan dijadikan sebagai muttabi’ dan syawahid hadis. Tingkatan keempat dan kelima (thabaqat al-rabi’ah wa al-khamisah) dari murid Imam al-Zuhry ialah orang-orang yang dikenal dha’if dan rendah kualitasnya (majruh). Baik Imam Bukhari maupun Imam Muslim, tidak meriwayatkan dari orang-orang yang berada pada tingkatan ini.

2] Imam Muslim (206 – 261 H)

Imam Muslim merupakan salah satu imam hadis yang punya reputasi tinggi sepanjang jaman. Beliau mempunyai nama lengkap: Abu al-Husain Muslim bin al-Hajaaj bin Muslim bin Ward ibn Kuusyaadz al-Qusyairiy an-Naisaabuuriy. Lahir di Naisabur pada tahun 206 (ada pula yang mengatakan pada tahun 204), Imam Muslim sudah sejak kecil mulai belajar hadis. Kesempatan untuk kali pertama mendengar (sima’) hadis dialami beliau di usia masih belia pada tahun 218 H, atau ketika beliau berumur 12 tahun.

Imam Muslim menghabiskan hampir sepanjang hidupnya untuk mencari hadis ke berbagai kota yang menjadi kantung-kantung keilmuan di dunia Muslim, di masanya. Beliau pernah menyinggahi Hijaz, Irak, Syam, Mesir, dan kota-kota lainnya. Dalam perjalanan intelektualnya ini, beliau banyak menemui para ulama dan kaum cerdik pandai. Di Khurasan, beliau berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishaaq bin Raahawaih; di Rayy, kepada Muhammad ibn Mahraan dan Abu ‘Insaan; di Irak, kepada Ahmad bin Hanbal dan ‘Abdullah bin Maslamah; di Hijaz, kepada Sa’iid bin Manshur dan Abu Mus’ab; di Mesir, kepada ‘Amr bin Sawwaad dan Harmalah bin Yahya, dan para ulama lainnya.

Imam Muslim lebih dari satu kali mengunjungi Baghdad untuk berinteraksi dengan kalangan ulama disana. Terakhir kali, beliau melakukannya pada tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari mengunjungi Naisabur banyak rumor beredar mengenainya. Dan, untuk mendapatkan berita yang benar, Imam Muslim berusaha menemui Imam Bukhari, hingga akhirnya ia mendapatkan kesan bahwa Imam Bukhari itu adalah orang yang punya kelebihan tersendiri dan berilmu tinggi. Ketika terjadi perselisihan antara Imam Bukhari dan adz-Dzihliy, Imam Muslim nampaknya lebih memihak Imam Bukhari, sehingga hubungannya dengan adz-Dzihliy memburuk. Bahkan, beliau tidak memasukkan hadis-hadis riwayat adz-Dzihliy dalam kitab shahih-nya, termasuk hadis-hadis dari guru adz-Dzihliy pula. Hal yang sama juga dilakukannya terhadap Imam Bukhari. Namun demikian, meskipun Imam Muslim memperlakukan sama kedua orang yang berselisih itu, ada dugaan dilatar belakangi oleh motif yang berbeda. Tidak diketahui, apakah terhadap adz-Dzihliy atau Imam Bukhari, nampaknya alasan yang sesungguhnya bahwa Imam Muslim tidak meriwayatkan hadis dalam shahih-nya atau guru dari salah satu kedua orang tersebut ialah karena Imam Muslim sendiri sudah maklum dengan para guru kedua orang itu.

Imam Muslim banyak sekali berguru kepada ulama dan intelektual mumpuni, sebagiannya ialah para intelektual yang telah disebut diatas. Sementara sisanya ialah orang seperti dua bersaudara ‘Ustman bin Abi Syaibah dan Abu Bakar bin Abi Syaibah, Syaibaan bin Faruukh, Abu Kaamil al-Jawriy, Zahiir bin Harab, ‘Amr an-Naaqid, Muhammad bin al-Matsna, Muhammad bin Yasaar, Haruun bin Sa’iid al-`Ailiy, Qutaibah bin Sa’iid, dan masih banyak lagi.

Selain punya banyak guru, beliau juga mempunyai banyak murid, termasuk para intelektual yang sejaman dengan beliau. Diantara murid-muridnya yang paling terkenal, yaitu: Abu Haatim ar-Raaziy, Musa bin Haaruun, Ahmad bin Salmah, Abu Bakar ibn Khuzaimah, Yahya bin Shaa’id, Abu ‘Awaanah al-Isfiraaniy, Abu ‘Isa at-Tirmidzi yang meriwayatkan satu hadis dari beliau dari riwayat Muhammad bin ‘Amr – dari Abi Salmah – dari Abu Hurairah mengenai hilal di akhir bulan Sya’ban untuk menetapkan awal bulan Ramadhan, Abu ‘Amr Ahmad bin al-Mubaarak al-Mustamiliy, Abu al-‘Abbaas Muhammad bin Ishaaq bin as-Siraaj, dan yang paling khusus (spesial) ialah Ibrahim bin Muhammad bin Sufyaan al-Faqih al-Zahid yang paling banyak meriwayatkan hadis dari beliau, dan masih banyak lagi murid-murid lainnya.

Sebab itulah, Imam Muslim dikenal sebagai figur intelektual hadis besar setelah Imam Bukhari, dimana kitab shahih-nya banyak dipuji sebagai yang paling mempunyai susunan terbaik dan sanad-nya tercatat sebagaimana adanya, tanpa penambahan juga pengurangan. Sehingga, Ishaaq bin Manshur al-Kusaj mengatakan kepada beliau, “tidak akan pernah ada lagi kebaikan yang Allah berikan sebagaimana yang telah engkau lakukan.” Setelah menjalani kehidupan yang luar biasa diberkahi Allah Swt., Imam Muslim kembali ke sisi-Nya di waktu petang pada hari Ahad, dan dimakamkan di Nashr Abad, sebuah daerah diluar Naisabur, pada hari Senin di penghujung bulan Rajab pada tahun 261 H. Ketika itu, beliau baru berusia 55 tahun.

Imam Muslim banyak melahirkan karya. Abu Quraisy al-Hafidz sendiri mendakunya sebagai salah satu dari empat penghapal terbaik di muka bumi pada masanya, dan beberapa karya yang lahir dari beliau, diantaranya: al-Jami’ al-Shahih; al-Musnad al-Kabir ‘ala al-Rijal; Kitab al-Asma` wa al-Kuna; Kitab al-‘Ilal; Kitab al-Aqran; Kitab Su`alatuhu Ahmad bin Hanbal; Kitab al-Intifa’ bi Uhub as-Sibaa’; Kitab al-Mukhadhrin; Kitab Man Laisa Lahu Illa Rawin Wahidin; Kitab Awlad al-Shahabah; Kitab Awham al-Muhadditsin. Dari kesemua karyanya, yang paling punya reputasi tinggi, yang tak lekang dan tak lapuk oleh jaman ialah al-jami’ al-Shahih.

al-Jami’ al-Shahih Muslim

Dalam jagat per-hadis-an, karya Imam Muslim bernama al-Jami’ al-Shahih didaku sebagai kitab kedua tershahih setelah al-Jami’ al-Shahih Imam Bukhari, selain al-Qur’an. Kitabnya ini disusun selama 15 tahun. Imam Muslim tidak membuat daftar bab dengan menggunakan kata kerja (betuk fi’il), melainkan mengumpulkan hadis yang secara tema berhubungan. Kalaupun saat ini disebutkan daftar isi dan daftar bab dalam naskah cetakannya, hal itu bukan bikinan Imam Muslim tetapi bikinan para pensyarah kitabnya (orang yang paling baik melakukan hal ini ialah Imam Nawawi dengan syarah-nya). Menyangkut jumlah hadis yang ada dikompliasi, para ahli berbeda pendapat dalam menghitungnya. Ahmad bin Salmah mengatakan bahwa al-Jami’ al-Shahih berisi 12.000 hadis, sedangkan Ibn Shalah yang mengikuti Abi Quraisy al-Hafidz mengatakan, bahwa didalamnya terdapat 4.000 hadis saja. Menurut Dr. Muhammad Muhammad Abu Syuhbah, kedua pendapat itu bisa saja tidak bertentangan, sebabnya ialah, jika pendapat pertama menjumlah dengan tidak menghitung hadis yang berulang, ang kedua justru melakukannya.

Ciri-ciri khusus yang dimiliki al-Jami’ al-Shahih Imam Muslim, diantaranya ialah:
[1] keseluruhan matan hadis beserta jalur periwayatannya diletakkan pada satu tempat, tidak dipisah-pisah dalam beberapa bab, juga tidak diulang-ulang penyebutannya kecuali jarang sekali. Kalaupun ada penyebutannya yang berulang, biasanya, karena terpaksa dan bukan tanpa alasan, contohnya ialah seperti dalam pembahasan keterangan “tambahan” mengenai sanad maupun matan;
[2] kompilasi hadis-hadis tidak dimaksudkan untuk menerangkan fiqh atau sebagai acuan hukum (istinbath al-hukm) dan budi pekerti, sebagaimana dilakukan oleh Imam Bukhari dengan al-Jami’ al-Shahih-nya;
[3] lafz atau gaya bahasanya halus;
[4] terdapat keterangan mengenai konstruksi perbedaan lafz, misalnya, bila ada dua orang perawi yang meriwayatkan hadis, salah satunya menggunakan kata “haddatsana” dan yang lain “akhbarana”, maka Imam Muslim akan menjelaskan apa yang melandasi perbedaan penggunaan lafz itu, dan begitu juga jika hadis tersebut diriwayatkan oleh lebih dari dua orang;
[5] hadis-hadis yang dikompilasi kesemuanya berstatus marfu’ (yang diyakini memang bersandar kepada Nabi Saw.), sebab itulah perkataan Sahabat dan Tabi’in (qawl as-sahabah wa at-Tabi’in) tidak turut disebutkan;
[6] tidak banyak mengandung hadis yang berkualitas mu’allaq (dimana satu atau lebih periwayat pada awal sanad sengaja dibuang), yakni hanya sebanyak 12 buah hadis. Itu pun, tidak disebut dalam redaksi di kitab asli, tapi dalam muttabi’at, sebagaimana disebut di muka.

Kriteria Kesahihan Hadis Imam Muslim

Imam Muslim, sebagaimana Imam Bukhari tidak menyatakan secara eksplisit syarat-syarat hadis yang bisa masuk kompilasi kitab shahih-nya. Namun, dari pengamatan para ahli, dengan melihat strukturnya, hal itu bisa diketahui, yaitu: beliau tidak men-takhrij (memasukkan hadis), kecuali dari para periwayat yang ‘adil dan dhabit, yang kejujuran dan kepercayaan mereka dapat diyakini; punya kemampuan hapalan yang baik; tidak pernah punya kekeliruan, sebagaimana diriwayatkan oleh orang-orang sebelumnya. Imam Muslim memang tidak menerapkan kriteria ketat sebagaimana Imam Bukhari, dalam hal ini beliau agaknya lebih longgar menetapkan kriteria dalam mengambil periwayat dari thabaqat tertentu, sebagaimana contoh tentang murid-murid Imam al-Zuhry. Imam Muslim meriwayatkan dari para periwayat yang punya tingkat kredibilitas pertama (thabaqat al-`ula) dan kedua (thabaqat at-tsaniyah) secara seimbang, dan sedikit saja meriwayatkan dari thabaqat at-tsalitsah (ketiga), ini pun dalam porsi sebagai muttabi’at dan syawahid, tidak pada versi asli kitab. Pun demikian, sebagaimana dikatakan Dr. Muhammad Muhammad Abu Syuhbah, dari pengantar pendahuluan kitab al-jami’ al-Shahih-nya, diketahui bahwa Imam Muslim tak lupa membagi hadis kedalam tiga tingkatan: pertama, hadis yang diriwayatkan oleh para penghapal yang dikenal takwa; kedua, hadis yang diriwayatkan oleh orang yang mastur (tidak diketahui track record-nya), namun dikenal sebagai penghapal dan orang yang takwa dengan tingkat sedang (moderat); ketiga, hadis yang diriwayatkan oleh orang yang lemah kualitasnya (dhaif) dan lemah kredibilitasnya (matruk). [1]

3] Imam Abu Dawud (202 – 275 H)

Imam Abu Dawud as-Sijistaaniy, atau lengkapnya Sulaimaan bin al-Asy’ab bin Ishaaq ibn Basyiir bin Syadaad bin ‘Amr al-Azdiy as-Sijistaaniy, lahir pada 202 H. Sejak kecil, Imam Abu Dawud dikenal sebagai anak yang amat mencintai ilmu dan senang bergaul dengan para ulama. Sehingga belum sampai dewasa dari usianya, beliau banyak melakukan pengembaraan intelektual, khususnya di kampung halamannya sendiri, yakni Sijistan (sebuah kampung di Bashrah). Beliau dikenal sebagai ulama yang mengamalkan ilmunya (ulama al-‘amilin), yang sering disebandingkan dengan Imam Ahmad bin Hanbal, yang juga merupakan gurunya. Sifat rendah hati, kerap menjadi penengah, dan figur yang selalu menjaga kehormatan diri, kerapa dilektakan kepada beliau. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai orang yang berpembawaan tenang.

Daerah-daerah dimana Imam Abu Dawud sempat singgah untuk berguru, diantaranya ialah: Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Tsagr, Khurasan, dan terutama Baghdad. Ketika beliau memperkenalkan kitab as-Sunan-nya kepada penduduk Baghdad, pujian datang dari Imam Ahmad bin Hanbal. Beberapa guru beliau yang mempunyai reputasi tinggi, diantaranya, yaitu: Ahmad bin Hanbal, al-Maq’abiy, Abu ‘Amr ad-Dhariir, Muslim bin Ibrahim, ‘Abdullah bin Raja`, Abu al-Waliid at-Thayaalisiy, dan lain-lainnya. Maha guru seperti Ahmad bin Hanbal, ‘Utsman bin Abi Syaibah, dan Qutaibah ibn Sa’iid, merupakan guru Imam Abu Dawud, yang juga merupakan guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sedangkan, beberapa ulama dan intelektual yang pernah berguru kepada Imam Abu Dawud, diantaranya: Abu ‘Isa at-Tirmidzi, Abu ‘Abdirrahman an-Nasaa`i (dua nama ini juga dikenal sebagai pengarang kitab as-Sunan), Abu Bakar bin Abi Dawud (yang merupakan putranya), Abu ‘Awanah, Abu Sa’iid bin al-A’raabiy, Abu ‘Ali al-Lu`lu`, Abu Bakar bin DaasahAbu Saalim Muhammad bin Sa’iid al-Jaluudiy, dan masih banyak lagi.

Ibrahim al-Harabiy pernah menyamakan Imam Abu Dawud dengan Nabi Dawud As. Dia mengatakan bahwa Imam Abu Dawud itu seperti Nabi Dawud As. dengan kemahiran masing-masing yang dimilikinya. Jika Nabi Dawud As. itu amat mahir dengan ilmu pandai besi, maka Imam Abu Dawud itu amat mahir dalam hadis sebagaimana ditunjukkannya lewat kitab as-Sunan-nya, dimana semua yang sulit terasa menjadi mudah dan yang jauh menjadi dekat.

Setelah bergelut dengan ilmu sepanjang hidupnya, Imam Abu Dawud menutup mata untuk kali terakhir ke pangkuan-Nya di Bashrah, kota yang menjadi tempat tinggal beliau sejak pemimpim Bashrah memintanya menetap disana, pada bulan Syawal, tahun 275 H.

Semasa hidupnya, Imam Abu Dawud banyak melahirkan karya, diantaranya: Kitab as-Sunan; Kitab al-Maraasiil; Kitab al-Qadr; an-Nasikh wa al-Mansukh; Fadha`il al-A’maal; Kitab az-Zuhd; Dalaa`ilu an-Nubuwwah; Ibtidaa`u al-Wahyi; Ahbaaru al-Khawaarij. Dari karya-karyanya ini, yang paling disebut-sebut sebagai karya terbesar beliau ialah Kitab as-Sunan.

Kitab as-Sunan Abu Dawud

Dalam menyusun kitab hadisnya, Imam Abu Dawud menempuh cara berbeda dari para ulama hadis lainnya yang menyusun kitab berdasakan susunan al-jami atau al-musnad, yang keduanya biasanya memuat kompilasi hadis yang secara tematik meliputi permasalahan keutamaan ibadah (fadhail al-a’mal), kisah-kisah (al-qashash), nasehat-nasehat (al-mawaa’izh), budi pekerti (al-adaab), tafsir (at-tafsir), dan sebagainya. Berbeda dengan itu, Imam Abu Dawud menyusun kitab hadisnya berdasarkan susunan as-sunan, yakni kompilasi hadis yang disusun berdasarkan muatan urutan hukum fiqh, dimana bukan hanya memasukkan hadis shahih tapi juga hadis-hadis yang berkualitas hasan dan dhaif (beliau tak lupa juga memberi penjelasan dan catatan khusus sebagai peringatan jka ada sebuah hadis yang kualitasnya dhaif sekali dalam kitab as-Sunan-nya).

Menurut pengakuan Imam Abu Dawud, sebenarnya beliau mencatat tak kurang dari 500.000 hadis Nabi Saw., akan tetapi dalam kitab as-Sunan-nya hanya dimasukkan sebanyak 4.800 hadis, yang jika dihitung termasuk dengan yang diulang jumlahnya sebanyak 5.274 hadis. Sejumlah hadis ini, beliau bagi kedalam beberapa kitab dan bab. Jumlah Kitab secara keseluruhan ialah 35 kitab, dimana 3 diantaranya tidak memiliki bab. Sedang jumlah Bab keseluruhannya sebanyak 1.871 bab. Dan sebagaimana beliau katakan, didalamnya bukan saja terdapat hadis shahih, namun yang hasan dan dhaif pun, termuat. Karena itulah, kompilasi hadisnya menyebut hadis-hadis yang tidak terdapat dalam karangan al-Jami’ al-Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim.

4] Imam at-Tirmidzi (209 – 279 H)

Imam Tirmidzi, yang mempunyai nama lengkap Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Sawrah bin Musa ibn ad-Dhahhaak as-Salmiy at-Tirmidzi dilahirkan pada tahun 209 H. Sebagaimana para imam hadis lainnya, beliau sejak kecil memang diketahui amat mencintai ilmu dan mencari hadis (menerima dan meriwayatkan). Pengembaraannya mencari hadis dilakukannya hingga ke Hijaz, Irak, Khurasan, dan daerah-daerah lainnya. Dalam perjalanan inilah, beliau mencatat segala apa yang berhasil didengarnya dari riwayat-riwayat hadis yang ada. Sehingga, hampir tidak ada waktu yang lowong bagi beliau untuk menyibukan diri dengan hal itu. beliau dikenal sebagai orang yang punya kemampuan menghapal amat baik, terpercaya (tsiqah), amat bisa diandalkan (al-amanah), seorang yang rendah hati (al-wara’) dan juhud (az-zaahid), orang yang amat takwa sekaligus punya kecerdasan diatas rata-rata. Sambil mengutip ‘Umar bin ‘Ak, al-Hakim Abu ‘Abdillah mengatakan bahwa sepeninggal Imam Bukhari belum ada yang menyamai kedalaman ilmu, kemampuan menghapal, kerendah hatian, seagaimana diperlihatkan oleh Imam Tirmidzi. Beliau meninggal ketika berusia 70 tahun di kampung halamannya sendiri, Tirmidz, pada tahun 279 H.

Sepanjang perjalanan intelektualnya, Imam Tirmidzi berguru kepada banyak intelektual dan ulama para ahli hadis, diantaranya: Imam Bukhari, dimana beliau juga meriwayatkan hadis darinya, Imam Muslim, Imam Abu Dawud. Beliau juga berguru kepada guru-guru ketiga Imam hadis tersebut, seperti kepada Qutaibah bin Sa’iid, Ishaaq bi Musa, Mahmuud bin Ghaylaan, Sa’iid bin ‘Abdirrahman, Muhammad bin Basyaar, ‘Ali bin Hajar, Ahmad bin Manii’, Muhammad bin al-Matsna. Selain berguru, beliau juga mempunyai murid-murid, seperti: Makhuul ibn al-Fadhl, Muhammad bin Mahmud ‘Anbar, Hamaad bin Syaakir, ‘Abd bin Muhammad an-Nisfiyuun, Haitsam bin Kulaib asy-Syaasyiy, Ahmad bin Yuusuf an-Nasafiy, Abu al-‘Abbaas Muhammad bin Mahbuub al-Mahbuubiy, dan masih banyak yang lainnya.

Beberapa karya Imam Tirmidzi, diantaranya: Kitab al-Jami’, Kitab al-‘Ilal, yang digabungkan di bagian akhir kitab al-jami’-nya, Kitab at-Tarikh, Kitab asy-Syaamaa`il an-Nubuwwah, Kitab al-Asma wa al-Kuna, Kitab az-Zuhd. Dari karya-karyanya ini, yang paling terkenal ialah Kitab al-Jami’, yang namanya sering disebut berdasarkan pada penisbahan pengarangnya hingga lebih masyhur dikenal sebagai Jami’ at-Tirmidziy.

Kitab Jami’ at-Tirmidziy

Kitab al-Jami’ Imam Tirmidzi disusun berdasarkan bab fiqh, yang memuat hadis-hadis beragam, dari yang kualitasnya shahih, hasan, dhaif, bahkan yang ber-‘llat (hadis yang mempunyai cacat) tetapi dengan tak lupa menyebutkan kecatatannya. Ada penilaian bahwa kompilasi hadis Imam Tirmidzi dalam kitabnya tersebut memang diperuntukkan bagi para ahli fiqh sebagai acuan berdalil (hujjah), sehingga pada akhirnya ia tidak dimaksudkan sebagai kompilasi yang memperhatikan secara serius apakah memuat hadis-hadis yang shahih saja, atau sebaliknya. Bahkan, Imam Tirmidzi dikatakan cenderung menganggap mudah (berlaku tasahul) memasukkan hadis-hadis kedalam kompilasinya. Sehingga dalam kitabnya, terdapat juga hadis-hadis yang terhitung sebagai hadis munkar dan dhaif. Meskipun, hal demikian masih dapat ditoleransi dengan alasan bahwa hadis-hadis tersebut hanya membicarakan tentang keutamaan ibadah (fadha`il al-a’mal), bukan mengenai hal-hal yang menyangkut halal dan haram. Bahkan, orang seperti Ibn al-Jauziy, Ibn Taimiyah, dan adz-Dzahabiy (murdnya) mengatakan bahwa dalam kitab Jami’ at-Tirmidzi terdapat hadis maudhu (palsu) sekitar 30 buah, meskipun pendapat ini dibantah oleh Imam Suyuthi dengan mengatakan bahwa kalau memang benar hal itu ada, pasti Imam Tarmidzi memberikan catatan peringatan untuk diperhatikan (tanbih).

Tetapi, kitab al-Jami’ beliau bukan tidak punya keistimewaan. Jami’ at-Tirmidziy dianggap sebagai kitab yang baik susunannya, sedikit mengulang-ulang hadis yang sama, dan terutama didalamnya memuat keterangan yang tidak dimliki kitab sejenis, seperti: memuat keterangan pendapat berbagai mazhab, menunjukkan langkah-langkah pengambilan hukum (istidlal), menerangkan kualitas hadis yang shahih, hasan, dan gharib dengan penyertaan penilaian menurut ilmu al-jarh wa al-ta’dil.

5] Imam an-Nasaa`i (215 – 303 H)

Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Ali bin Syu’aib bin ‘Ali bin Sinaan bin Bahr al-Khurasaaniy atau yang terkenal dengan Imam an-Nasaa`i dilahirkan di Nasaa`, sebuah kampung di Khurasan, pada tahun 215 H (ada yang mengatakan tahun 214 H). Sebelum dewasa, beliau sempat menghapal al-Qur’an dan mempelajari dasar-dasar ilmu di madrasah kepada beberapa guru di kampungnya. Barulah setelah beranjak dewasa, beliau melakukan perjalanan intelektual dengan misi mencari periwayatan hadis. Pada usia 15 tahun, beliau mengunjungi Hijaz, Irak, Syam, Mesir, Jazirah, sehingga amat menguasai ilmu hadis dan seluk-beluk sanad. Beliau menyanggupi untuk menetap di Mesir ketika diminta tinggal disana. Di mesir, beliau menetap di Zaqaaq al-Qanaadiil hingga satu tahun menjelang wafatnya. Satu tahun terakhir hidup beliau, dihabiskan di Damsyik (Damaskus) sebelum suatu peristiwa menimpanya dan menyebabkannya sebagai syahid. Sebab ke-syahid-an ialah karena beliau menolak permintaan untuk membuat kitab yang membahas tentang keutamaan-keutamaan Muawiyah. Sehingga, beliau mendapatkan siksaan dari pihak yang memintanya, dan akhirnya menyebabkan beliau wafat.

Ada beragam pendapat mengenai dimana tepatnya tempat beliau wafat. Ada yang mengatakan, beliau wafat di Damsyik, sebagaimana cerita diatas. Abu ‘Abdillah bin Mandah mengutip kesaksian Hamzah al-‘Uqbiy al-Mishriy yang mengatakan, beliau wafat di Makkah dan dimakamkan diantara Shafa-Marwah. Sedang Imam adz-Dzahabiy mengatakan bahwa yang betul itu, beliau wafat di Ramlah (Ramallah) dan dikebumikan di Bait al-Maqdis. Pendapat ini diamini oleh Ibn Yuunus dalam kitab tarikh-nya dan Abu Ja’far ath-Thahaawiy, serta Abu Bakar bin Nuqthah. Menyangkut tahun wafat, yakni di tahun 303 H, nampaknya semua ahli menyepakatinya.

Imam an-Nasaa`i dikabarkan berwajah ganteng, mempunyai kulit agak ketimuran dan agak kemerah-merahan. Beliau seorang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik di waktu siang dan atau malam, membiasakan diri menunaikan ibadah haji dan berjihad, dan seorang yang mengamalkan puasa Nabi Dawud As., berbuka sehari dan berpuasa sehari, dan masih banyak sifat-sifat lain. Beliau tercatat berguru kepada beberapa ulama, diantaranya: kepada Qutaibah bin Sa’iid ketika usia beliau baru 15 tahun, Ishaaq bin Rahawaih, al-Harits bin Miskiin, ‘Ali bin Khasyram, Imam Abu Dawud as-Sijistaaniy, Imam at-Tirmidziy. Beliau juga mempunyai murid, yakni: Abu al-Qasim ath-Thabrany (Imam Thabrany), Abu Ja’far ath-Thahaawiy, al-Hasan bin al-Khadhr as-Suyuthi, Muhammad Ibn Mu’aawiyah bin al-Ahmar al-Andaluusiy, Abu Bakar Ahmad bin Ishaaq as-Sunniy.

Beberapa karya Imam an-Nasaa`i yang dapat disebut disini, yaitu: as-Sunan al-Kubra; as-Sunan ash-Shughra, yang merupakan ringkasan dari as-Sunan al-Kubra, yang hanya memuat hadis-hadis shahih, dinamai dengan al-Mujtaba; al-Khashaa`is; Fadhaa`il ash-Shahabah; al-Manaasik, dan lain-lain. Diantara karyanya, yang terbesar ialah kitab as-Sunan atau as-Sunan al-Kubra.

Kitab as-Sunan an-Nasaa`i

Kitab as-Sunan Imam an-Nasaa`i disusun berdasarkan bab fiqh, sebagaimana kitab-kitab jenis as-sunan lainnya. Tidak banyak keterangan menyangkut apa kriteria kesahihan dari Imam an-Nasaa`i kescuali kompilasi hadisnya dalam as-Sunan al-Kubra terdapat beragam kualitas hadis dimasukkan, baik shahih, hasan, dan dhaif meski hanya sedikit saja. Sebagai catatan, sebagaimana pendapat al-Mundziriy dan al-Mazziy, bahwa jika ada keterangan tentang adanya suatu hadis yang di-takhrij oleh Imam an-Nasaa`i, maka yang dimaksud ialah riwayatnya yang ada pada as-Sunan al-Kubra, bukan yang ada dalam as-Sunan ash-Shughra, yang saat ini justru lebih terkenal, baik di dunia Arab, India, maupun daerah ‘ajam lainnya. Sebab, kitab yang kedua merupakan ringkasan dari yang pertama.

6] Imam Ibn Majah (209 – 273 H)

Imam Ibn Majah mempunyai nama lengkap Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rab’iy al-Qazwiniy. Beliau dilahirkan pada tahun 209 H, dan meninggal pada bulan Ramadhan, tahun 273 H. Sebagaiman para imam hadis diatas, Imam Ibn Majah amat tertarik dengan ilmu hadis (ilmu dirayah) dan ilmu riwayat hadis (ilmu riwayah), sehingga ia banyak mengelana mencari hadis ke Irak, Hijaz, Syam, Mesir, Kufah, Bashrah, dan daerah lainnya. Guru-guru beliau, antara lain: Abi Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair, Hisyaam bin ‘Ammaar, Muhammad bin Ramh, Ahmad bin al-Azhar, Bisyir Ibn Adam, dan para ulama besar lainnya. Sedangkan yang berguru kepada beliau, yaitu: Muhammad bin ‘Isa al-Abhariy, Abu al-Hasan al-Qaththaan, Sulaiman bin Yazid al-Qazwiniy, Ibn Sibawaih, Ishaaq bin Muhammad, dan masih banyak lagi.

Ibn Majah dikenal sebagai orang yang terpercaya (tsiqah), punya kemampuan hapalan yang baik, juga seorang mufasir. Beberapa karya yang pernah lahir darinya, ialah: Kitab as-Sunan, yang masuk kedalam kitab yang enam (al-kutub as-sittah); Tafsir al-Qur`an al-Karim; Kitab at-Tarikh. Dari kesemuanya, yang paling lekat dengan nama Imam Ibn Majah ialah kitab as-Sunan-nya, yang memuat 32 kitab, meliputi 1.500 bab, yang mencakup 4.000 hadis.

Kitab as-Sunan Ibn Majah

Dari semua karya Imam Ibn Majah, yang paling lekat dengan nama beliau sekaligus membuat beliau termasyhur kitab as-Sunan-nya, yang terdiri dari 32 kitab, 1.500 bab, yang mencakup 4.000 hadis. Kitab ini disusun menurut urutan hukum fiqh, sebagaimana kitab as-Sunan lainnya. Tidak hanya hadis shahih termuat dalam kitab ini, ada pula yang statusnya dhaif, dimana banyak sanadi-nya yang hanya terdiri dari satu periwayat (munfarid al-hadits). Namun, kitab ini punya reputasi hampir setara dengan kitab yang lima, dimana tersebut diatas, melebihi kitab al-Muwatha-nya Imam Malik. Sehingga, kitab ini masuk dalam kategori kitab yang enam.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Sumber bacaan:

Dr. Muhammad Muhammad Abu Syuhbah,
Fi Rahaab as-Sunnah al-Kutub ash-Shahaah as-Sittah,
(tth: Silsilah al-Buhuts al-Islamiyah, 1389 H / 1969 M), cet. VIII.

Muhammad Abu Zahwu,
al-Hadits wa al-Muhadditsun aw ‘Inayah al-Ummah al-Islamiyah bi as-Sunnah an-Nabawiyah, (tth: Syirkah Sahimah Mishriyyah, tt).

[1] Menurut Dr. Muhammad Muhammad Abu Syuhbah, kategori ketiga ini sebenarnya tidak ada dalam Muqaddimah al-Jami’ al-Shahih Imam Muslim, namun ia sebut sebagai pelengkap dan penguat terhadap dua kategori yang disebut sebelumnya.

WordPress Themes