STAI AL ANWAR, SARANG
(0295) 5391410

Rembang- K. H. Musthofa Bisri mengisi materi dengan tema Belajar Islam di Pesantren dalam Studium General (19/9) di Gedung Serba Guna STAI Al Anwar Sarang. Acara dihadiri Ketua STAI Al Anwar Sarang K.H. Abdul Ghofur, civitas akademika, serta mahasiswa dan mahasiswi. Acara dimulai  lebih lambat 10 menit dengan jadwal karena aktifitas perkuliahan yang aktif dan beberapa teknis. Pasca acara dimulai, Gus Mus –Sapaan K.H. Musthofa Bisri-  terlihat merekam penampilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Ekantika Voice saat PSM memandu lagu Indonesia Raya, Mars, dan Hymne STAI Al Anwar.   Kemudian pada sesi materi, Gus Mus menjabarkan barbagai sudut pandang dan komponen yang ada di pesantren. Disampaikan dengan ringan dan bahasa apa adanya, hadirin dibuat tertawa dan menikmati setiap sesi materi yang disampaikan.

Di awal pembicaraan, Gus Mus menceritakan sekelumit latar belakang, dan keadaan yang pernah dialami. Kata Gus Mus, dulu beliau tidak pernah sekolah. Tidak pernah sekolah dalam artian hanya lulus kelas 1 Tsanawiyyah. “Saya mondok pertama kali di Lirboyo. Tidak bisa menulis huruf-huruf arab. Di Lirboyo saya kelas 4 Ibtidaiyyah. Belum sampai selesai, saya pindah ke Pesantren Krapyak Jogja. Saat ditanya Kiai Ali Maksum pernah ngaji apa, karena ayah saya kiai, maka saya tahu kitab-kitab yang diajarkan. Saya jawab Jurumiyah Imrithi dan lain sebagainya.” Kemudian Kiai Ali Maksum memerintahkan untuk menulis surat Al Fatihah; karena belajar baru sekedar huruf maka ditulis seadanya.  “kata Kiai Ali Maksum, Tulisane apik tapi kok keliru kabeh.” Hadirin tertawa.

Di Krapyak, Gus Mus turun kelas. Yang asalnya kelas 4 menjadi kelas 3. Setelah itu meneruskan hingga kelas 1 Tsanawiyyah saja. “Setelah kelas 1 Tsanawiyyah, saya masuk tanpa diuji di Al Azhar. Saya kuliah tidak seperti Gus Ghofur. Beliau di kelas-kelas. Sementara saya di masjid saja. Nggak tahu sekarang masih ada apa nggak.” Lanjutnya.

Dalam pembahasan sistem yang ada di pesantren, Gus Mus menjabarkan bahwa sistem pesantren berbeda dengan lembaga lainnya. Itu didasarkan pada perbedaan yang mencolok niat para pengajar. Jika di pesantren berangkat dari niat investasi akhirat, kemudian lembaga pengajaran yang lain didasarkan pada etos kerja. “Orang lebih memilih telur hari ini daripada (diberi) ayam besok.” Paparnya.

Dari sisi akademik pesantren, kata Gus Mus ada tarbiyah dan ta’lim. Tarbiyah dalam artian pengajaran dan ta’lim pendidikan. Hanya di pesantren yang mengajarkan tarbiyah dan ta’lim. Tarbiyah yang diajarkan di pesantren pertanggung jawabannya sampai hari kiamat. Sehingga jika mengaji kepada Kiai Ghofur tentang hadits kemudian diketahui bahwa gurunya adalah Kiai Maimun hingga sampai Rosulullah.“Kalau kalian petakilan, Kiai Ghofur ini tahu. Meskipun secara tidak langsung, tetapi banyak mata-mata. Itulah  tarbiyah yang dimiliki pesantren.” Lanjutnya.

Selanjutnya Gus Mus menjabarkan sebab akibat sosial yang timbul dari pesantren yang berada di kota dan desa. Menurutnya, pasantren yang ada di desa akan lebih sukses dibanding pesantren yang ada di kota. Hal ini didasarkan karena kondisi sosial perkotaan yang kurang beradap dan antipatif sementara keadaan di desa sebaliknya. Sebagai contoh bagaimana perbedaan menghormati tamu antara orang desa dan orang kota. Pun, dulu para kiai mendirikan pesantren jauh dari pusat pemerintahan karena menghindari kolonial Belanda. “Makanya pesantren dulu ketika memilih nama sangat tawadluk. Mengambil dari nama daerah. Karena mereka lebih memilih esensi pengajaran. Seperti Pondok Tebu Ireng, Lirboyo, Ploso, kemudian Sarang.”

Ada satu cerita menarik tentang pesantren. Kata Gus Mus, ini dari temannya teman saya, silahkan nanti dicek kebenarannya. Saat itu Rektor UGM (Universitas Gajah Mada) mengadakan kerja sama dengan pesantren. Rektor tersebut mengadakan tes. Tes diikuti 11 pesantren. Dari 11 pesantren tersebut yang lulus 10 pesantren. Rektor tersebut heran. pasalnya materi yang diujikan adalah sebangsa bahasa Inggris dan ilmu umum lainnya. “ Ketika ditanya apa rahasisanya, dijawab; Bismillah, pangestu kiai, dan belajar 24 jam. Kalau Dulu ketika saya di Al Azhar , saya belajar 3 bulan sebelum ujian. Entah mana yang mandi (mujarab) saya tidak tahu. Wallahu A’lam.”

Perihal kebangsaan, Gus Mus menyinggung betapa berharganya NKRI. Kemudian nama K.H. Hasyim Asy’ari muncul. Diceritakan di satu situasi ketika pameran lukisan. Gus Mus menemukan lukisan Syaikhina hasyim Asy’ari yang sangat indah. Dicari siapa pelukisnya dan ditanya mengapa lukisan Syaikhina dibuat sangat indah. “Kalau nggak ada orang ini, nggak ada NKRI.” Jawab Pak Joko; Si pelukis lukisan.

“Kemudian ketika sambutan di acara Anugerah Yap Thiam Hien saya sampaikan, saya tidak tahu HAM tapi saya mengajarkan nilai-nilai pesantren dan bernegara. Pesan dari mbah-mbah adalah negara ini adalah rumah kamu. Jaga dan rawat. Nggor ngono tok dikeploki. ” Hadirin tertawa lagi.

Gus Mus juga menyinggung bagaimana kondisi sosial sekarang terkait teknologi dan informasi. Menurutnya, santri harus bisa menguasai Google. Karena sekarang banyak orang yang alim teknologi tapi bodoh agama. “Dulu ada yang bernama Hamka. Dia pintar teknologi tapi tingkat alim agama biasa saja. Dia dapat membawa nilai-nilai pesantren.”

Poin yang tak kalah menarik juga disampaikan; cita-cita ketika belajar di pesantren; Nasyrul ilmi menyebarkan ilmu, dan mengamalkan untuk diri sendiri. Menurutnya, mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan sangatlah sulit. “Karena semakin orang pintar, maka dia akan semakin bodoh.“

Terakhir perihal celana dan sarung, Gus Mus berkomentar, “Saya dari rumah berfikiran bahwa saya berbicara di STAI. Untuk ,meneyesuaikan maka saya pakai celana. Karena Gus Ghofur tahu saya orang pesantren maka pakai sarung. Sama-sama ingin menyesuaikan, ternyata tidak sesuai.” Sekali lagi Hadirin dibuat tertawa.(*)

 

 

 

WordPress Themes